UA-107124682-1 Sejarah Kediri

kursor

Wavy Tail

Follow Us @soratemplates

Kamis, 05 Oktober 2017

Oktober 05, 2017 0 Comments
 NIKMATNYA MAKAN PECEL DI JLN.DHOHO



Jika anda berjalan-jalan ke Kota Kediri pada malam hari, belum lengkap jika tidak berkunjung di
Jalan Dhoho. Jalan Dhoho ini layaknya Jalan Marlboro di Yogyakarta, namun versi Kediri. Berbagai pertokoan berjajar sepanjang Jalan Dhoho. Ada toko pakaian, aneka kerajinan dan swalayan. Tidak lupa berbagai makanan khas Kediri juga terpampang sepanjang jalan ini.
Termasuk di antaranya adalah pecel tumpang. Nah, setelah anda puas berbelanja, anda bisa istirahat santai di pinggir Jalan Dhoho sembari memesan nasi pecel tumpang pincuk. Sembari makan pecel tumpang kita bisa menikmati lalu lalang kendaraan yang berjalan lambat di sepanjang Jalan Dhoho.
Pecel tumpang Jalan Dhoho biasanya mulai digelar pukul 15.00 WIB hingga tengah malam. Jangan anggap bahwa pecel tumpang di sini disajikan di dalam ruangan lengkap dengan tempat duduk seperti apa yang kita bayangkan. Pembeli hanya disediakan tikar plastik atau karpet dan bebas memilih tempat duduk lesehan. Boleh di depan pertokoan yang tutup, trotoar maupun di manapun di sepanjang Jalan Dhoho, asal tidak di tengah jalan.
Para penjual pecel tumpang pun tidak memiliki bedak. Mereka menggelar dagangannya di depan pertokoan dengan bermodalkan pikulan dan tempat seadanya. Walaupun tempat pedagang antara satu dengan lainnya saling berdekatan, namun mereka sama sama laku dan memiliki penggemar fanatik. Para penikmat pecel tumpang fanatik itu seringkali datang hanya untuk bersantai dan menikmati makanan khas Kediri ini.
Menu yang disajikan pun beragam, sesuai dengan selera pembeli. Ada yang suka dengan nasi pecel, nasi tumpang maupun nasi campur (campuran antara tumpang dan pecel). Cara penyajian sambal tumpang tak jauh beda dengan cara penyajian sambal pecel, yaitu dengan nasi yang di atasnya di beri aneka lalapan atau sayur – mayur yang telah direbus terlebih dahulu lalu disiram dengan sambal tumpang dan diberi peyek sebagai pelengkap, bisa peyek kacang atau peyek teri. Pecel tumpang ini disajikan disajikan di atas pincuk yang terbuat dari daun pisang. Anda bisa menggunakan sendok yang disediakan atau muluk pakai tangan. Jika anda muluk anda tinggal minta kobokan untuk cuci tangan.
Tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati makanannya hanya mengeluarkan Rp. 5000,- anda sudah mendapatkan satu pincuk pecel tumpang, 1 gelas teh anget ato es teh dan sisanya bisa buat parkir. tidak mahal bukan?
Sambal tumpang terbuat dari tempe yang telah busuk (bosok). Tempe yang sudah membusuk ini dimasak di campur dengan aneka bumbu seperti lombok atau cabe, bawang, garam dan bumbu dapur lainnya. Sambal tumpang memang terbuat dari tempe bosok, namun jangan keburu jijik cobalah dulu rasanya jika telah matang, pasti akan membuat anda ketagihan. Saya sudah mulai ketagihan nich.
Di Kota Malang tempat saya tinggal sekarang setahu saya pecel tumpang yang rasanya nendang di lidah hanya ada di samping Rumah Saikit Islam Dinoyo. Namun warung itu hanya buka dari jam 06.30 sampai jam 12.00 WIB. Itu pun saya harus mengantri panjang untuk mendapatkannya. Untuk para pembaca yang hoby makan pecel tumpang bisa merekomendasikan di mana tempat-tempat yang paling nikmat untuk makan pecel tumpang menurut anda. Pasti akan menjadi refrensi para pembaca yang lain penikmat Pecel tumpang.

Selasa, 03 Oktober 2017

Oktober 03, 2017 0 Comments
 KAMPUNG INGGRIS PARE KEDIRI

 
Sejarah Kampung Inggris Pare di kabupaten Kediri dimulai oleh Mr. Kalend Osen, Pendiri lembaga kursus bahasa inggris pertama di kampung inggris, BEC (Basic English Course).
Siapa yang tidak tahu Kampung Inggris di kecamatan pare kabupaten Kediri, sebuah pusat pembelajaran bahasa inggris terbesar di Indonesia yang mengukir sejarahnya sejak tahun 1977. Ada lebih dari 100 lembaga kursus dan 5000 pelajar dari berbagai kota bahkan dari luar negeri yang belajar bahasa inggris disana.
Semua hal yang terjadi di dunia telah mengukir sejarahnya masing-masing, dan beginilah sejarah Kampung Inggris pare di kabupaten Kediri dimulai.

Sejarah Kampung Inggris Pare

Sejarah Kampung Inggris Pare berawal dari usaha keras yang dilakukan oleh Kalend Osen, pendiri lembaga kursus pertama di kampung inggris pare bernama BEC (Basic English Course). Mr. Kalend Osen (akrab dipanggil Mr. Kalend) adalah Pria kelahiran 4 Februari 1945 yang tampak sederhana namun begitu bersahaja.
Bermula pada tahun 1976 silam, Mr. Kalend merupakan santri asal Kutai Kartanegara yang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Menginjak kelas lima, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tidak bisa menanggung biaya pendidikan. Bahkan, keinginannya untuk pulang kembali ke kampung halamannya gagal karena kekurangan biaya.
Dalam situasinya yang saat itu sedang sulit, seorang temannya memberitahu adanya seorang ustaz bernama KH Ahmad Yazid di Kecamatan Pare yang menguasai delapan bahasa asing. Mr Kalend kemudian berniat berguru dengan harapan setidaknya dapat menguasai satu atau dua bahasa asing darinya. Ia kemudian mulai tinggal dan belajar di Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, milik Ustaz Yazid.
Suatu hari, datang dua orang tamu mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Maksud kedatangan dua mahasiswa ini adalah untuk belajar bahasa inggris dibawah bimbingan Ustaz Yazid sebagai persiapan mereka dalam menghadapi ujian negara yang akan diadakaan sekitar dua pekan lagi di kampus mereka.
Namun, saat itu Ustaz Yazid sedang pergi ke Majalengka karena suatu urusan sehingga kedua mahasiswa itu hanya bisa bertemu dengan ibu Nyai Ustaz Yazid. Entah dengan alasan apa, oleh Nyai Ustaz Yazid, kedua mahasiswa itu diarahkan untuk belajar dibawah bimbingan Mr Kalend yang belum lama menjadi santri di pesantren darul falah.
Oktober 03, 2017 0 Comments
ASAL USUL CANDI SUROWONO 
KEDIRI


Gua Surowono Kediri merupakan lorong bawah tanah dengan sungai yang airnya sangat jernih. Gua ini berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, yang konon merupakan sistem kanal, bagian dari Candi Surowono, yang telah ada sejak jaman Kerajaan Kediri.
Setelah meninggalkan Candi Surowono, kami ke barat sejauh 280 meter dan belok ke kanan di pertigaan. Setelah 450 m, kami belok kanan lagi lalu berhenti di rumah dengan penanda Gua Surowono. Kami lalu berjalan kaki melalui jalan setapak di samping rumah penduduk.
Beberapa saat kemudian sampailah kami di lokasi lubang gua yang ternyata berada di bawah permukaan tanah. Sebuah papan yang berisikan “Tata Tertib’ dengan tulisan tangan bagi para pengunjung sempat saya baca dengan isi yang cukup menggelitik. Bagaimana pun pesan itu patut dibaca, terutama informasi yang berhubungan dengan keselamatan para pengunjung.
gua surowono kediri
Lubang masuk gua yang berada di sumur, sekitar 5 m di bawah permukaan tanah dengan air jernih setinggi perut. Di atasnya ada gerumbul bambu yang menaungi jalan masuk gua. Menurut penuturan penjaga, banyak yang telah dipandunya masuk ke dalam lorong gua, dengan berbekal senter dan alas kaki, karena di bawah air ada bebatuan yang bisa melukai telapak.

Gua Surowono Kediri ini bisa dibilang sangat sempit, dan hanya bisa dilalui orang satu per satu dengan cara berjalan dalam satu baris iringan. Tidak ada seorang pun diantara kami yang ingin mencoba masuk ke dalam gua itu, selain karena harus mencebur ke dalam air, sempitnya lubang gua juga membuat perasaan menjadi tidak begitu nyaman.
gua surowono kediri
Jalan setapak menuju pintu sumur Gua Surowono Kediri itu boleh dikatakan cukup curam meski tidak terlalu tinggi, dan tampaknya bisa menjadi agak licin di musim penghujan karena trap-trapannya belum dibuat dengan cukup baik. Mudah-mudahan kondisi saat ini sudah jauh lebih baik lagi, agar orang bisa turun dengan nyaman dan aman.

Adanya gerumbul bambu yang padat tepat di bibir lubang memberi kesan tersendiri pada tempat ini, meskipun akan lebih terasa wingit jika ada pohon beringin tua atau pohon besar lainnya yang usianya ratusan tahun. Saat itu suasana sangat sepi, hanya kami yang berada di sana. Selain mungkin tak banyak yang tahu tempat wisata khusus ini, juga karena bulan puasa.
Ada sebuah susunan batu hitam yang biasanya sangat keras pada dasar sumur. Batu itu berada di dekat pintu masuk Gua Surowono Kediri dan bisa digunakan sebagai tempat duduk sementara, dengan kaki menjuntai. Tetes-tetes air terlihat mengalir secara teratur dari mata air yang tampaknya tak pernah kering di tebing lubang sumur ini.
Pintu masuk ke lorong gua tampak ditutup pagar besi ram-raman yang digembok. Memasuki lorong gua ini memang harus dipandu oleh penjaga, karena terdapat percabangan lorong yang bisa membuat orang tersesat di dalamnya. Jika saja bisa dibuat peta lorong yang ada di dalam gua, maka orang tak perlu takut untuk masuk ke dalamnya.
Menyusuri aliran sungai Gua Surowono Kediri di area pertama ini pengunjung bisa berjalan tegak saat di dalam lorong, namun saat berlanjut ke dalam lubang yang kedua maka pengunjung harus berjalan dengan cara berjongkok karena langit-langit gua yang rendah. Bagaimana pun pakaian sudah pasti basah ketika pertama kali orang turun ke mulut lubang gua.
Memasuki lubang gua yang nomor tiga, pengunjung sudah harus berjalan sambil duduk, dan pada lubang Gua Surowono yang keempat atau yang terakhir pengunjung harus merangkak atau berenang. Jarak antara lubang sumur ini berkisar antara 50 – 60 meter, cukup jauh. Jauh dekatnya jarak memang relatif. Jika di dalam tanah, jarak dekat akan terasa jauh.
Bila mempunyia kesempatan untuk berkunjung ke Candi Surowono, sebaiknya anda mampir juga ke Gua Surowono Kediri ini, karena jarak kedua tempat wisata yang menarik ini hanya sekitar 750 meter. Sebaiknya ketika berkunjung juga membawa baju ganti jika ingin merasakan pengalaman memasuki lorong Gua Surowono yang pasti akan sangat berkesan ini.
Sumber : Blog Aroeng binang
Alamat: Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Lokasi GPS: -7.7424, 112.2172, Waze. Jam buka setiap waktu. Harga tiket masuk gratis (tak ada tiket resmi), sumbangan diharapkan. Tempat Wisata di Kediri, Peta Wisata Kediri, Hotel di Kediri
Penampakan dan Misteri Goa Surowono
Sumber dari Kompasiana

GOA SUROWONO: Pintu goa (1) jalan masuk jalur penelusuran ke dalam goa, sedangkan Pintu goa (2) yang kabarnya tembus sampai ke Gunung Kelud, tapi belum pernah ada orang yang menelusuri. GOA Surowono yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, masih menyimpan banyak misteri hingga saat ini. Mulai dari kisah sejarahnya hingga cerita-cerita mistis yang menyelimuti goa ini masih menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Itu pula yang membuat banyak orang yang berkunjung ke Pare - termasuk saya - tertarik untuk mendatangi goa yang konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Panjalu (Kediri). Pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289 M), kitab Negarakertagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M). Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha. Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu atau Pangjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala. Itu sebabnya, penduduk Desa Canggu menamai Goa Surowono dengan Goa Kehuripan. Uniknya, di atas goa yang di dalamnya merupakan aliran sungai bawah tanah tersebut, terdapat rumah-rumah penduduk Desa Canggu. Goa itu memiliki lima mulut goa yang saling berhubungan satu sama lain. Menurut seorang ibu yang tinggal sekitar lima meter dari mulut goa mengatakan, Goa Surowono jalan rahasia para prajurit kerajaan ketika menghindar dari musuh, dan merupakan salah satu tempat persembunyian para raja-raja. Saat berdiri di mulut goa, muncul rasa penasaran untuk menelusuri goa yang di dalamnya terdapat banyak cabang. Bahkan, salah satu mulut goa yang berhadapan dengan pintu goa pertama dan belum pernah seorangpun menelusurinya, diyakini masyarakat sekitar, goa tersebut tembus hingga ke Candi Surowono yang terletak hanya sekitar 100 meter dari goa dan juga sampai ke Gunung Kelud. Konon, beberapa orang pernah mencoba tapi selalu cepat kembali keluar karena kesulitan bernapas. Goa itulah yang menurut seorang penduduk, pada waktu-waktu tertentu - seperti malam 1 Suro - menjadi tempat orang-orang bersemedi. Konon cerita, di dalam doa tersebut masih terdapat banyak benda-benda bertuah berupa keris maupun batu yang hanya bisa diambil orang dengan kemampuan ghaib atau kesaktian ilmu. Menurut seorang penduduk, wanita eparuh baya yang tidak ingin disebut namanya, tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono pernah datang mengambil dua jerigen air dari dalam goa menjelang Pemilu 2009. Air super-bening yang mengalir di lantai goa dipercaya sementara orang memiliki khasiat seperti menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dan dapat menambah derajat seeorang. Tetapi, oleh peduduk Desa Canggu sungai kecil di dalam goa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, masak, dan bahkan mereka biasa langsung meminumnya. Tapi, sejauh ini tidak ada yang berani menggunakannya sebagai tempat untuk membuang kotoran. Tak heran bila air sungai sangat jernih hingga batu-batuan di dasarnya dapat terlihat dengan jelas. Ketika menceburkan kaki ke dalam sungai yang mengalir di mulut pertama goa, kesejukan air terasa mengalir ke sekujur tubuh. Benar-benar segar, sehingga tak sabar menggunakannya untuk membersihkan muka. Dari posisi tersebut, saya berada di antara dua mulut goa yang tertutup dari pintu besi dan dalam kondisi digembok. Pintu besi itu dipasang sekitar setahun lalu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Menurut penduduk, dulu goa tersebut sering digunakan anak-anak untuk mengkonsumsi "miras". Selain itu ruangan-ruangan kecil di dalam goa juga sering menjadi tempat pasangan remaja maupun pasangan selingkuh berbuat mesum.
Untuk menelusuri goa yang memiliki lima mulut goa yang saling berhubungan satuy sama lain itu, harus didampingi seorang pemandu. Adalah Mas Sakri, 29 tahun, yang menjadi pemandu 'ekspedisi' saya ke dalam goa. Tentu saja Mas Sakri membawa perlengkapan lampu senter meskipun dia juga sudah sangat hafal dengan lika-liku alur goa tersebut. Begitu masuk pintu pertama suasana langsung mencekam dan sedikit tegang. Lebar goa hanya sekitar 50 centimeter dengan ketinggian goa sekitar 2 meter. Sungai kecil dengan airnya yang bening mengalir di lantai goa yang berbentu cekung dengan ketinggian air sekitar 10 centimenter di atas mata kaki. Perlu sedikit hati-hati menapakkan kaki, karena bentuk dasar sungai yang cekung dan penuh dengan pasir dan kerikil. Uniknya, tak ada dinding batu sedikitpun di dalam goa selain hanya lapisan tanah. Selain itu, mengingat diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri, orang pada masa itu sudah mampu membuat goa dengan kelebaran dinding dan ketinggian yang sama rata. Tapi, hingga saat ini belum ada yang mengetahui seberapa ketebalan tanah di atas goa. Tapi kalau dilihat dari kedalaman pintu pertama dengan permukaan tanah ketebalannya bisa diperkirakan sekitar 7-10 meteran. "Sudah berumur ratusan tahun dinding tanah yang lembab ini, tapi kok tidak pernah runtuh, ya Mas?" tanyaku pada Mas Sakri. "Saya juga tidak tahu. Padahal, tepat di atas goa ini tanahnya juga digali untuk membangun pondasi rumah-rumah penduduk. Saya tidak tahu kok bisa begitu. Dinding goa ini sama sekali tidak ada penahan," kata pemandu Sambil menelusuri lorong goa, air jernih bercucuran dari dinding dan langit-langit goa sehingga membasahi baju saya. Kami terus berjalan perlahan menembus kegelapan sampai akhirnya Mas Sakri berhenti. "Ini ada cabang goa. Saya pernah telusuri goa ini, tapi ternyata buntu," kata Mas Sakri sambil menunjukkan goa yang ia maksud dengan sorotan cahaya lamput senternya. Perjalanan lalu kami dan lanjutkan dan tak berapa lama cahaya matahari sudah terlihat masuk ke dalam rongga goa, pertanda sudah dekat dengan mulut goa kedua. Setibanya di depan mulut goa kedua kami mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan masuk ke dalam lorong goa kedua. Berbeda dengan lorong pertama, yang kedua ketinggian goa lebih pendek, yaitu sekitar 1,50 meter sehingga kami harus berjalan merunduk. Kedalaman sungainya juga bertambah. Lorong goa kedua berhasil kami lewati meskipun lebih sulit dibanding lorong pertama. Di dalam lorong kedua juga terdapat beberapa cabang goa yang lebih banyak dibanding pertama. Lorong goa kedua juga lebih panjang dibandingkan pertama. Tapi, menurut penelusuran yang pernah dilakukan Mas Sakri, semua cabang goa itu berakhir dengan dinding tanah alis buntu. Akhirnya, kami sampai di depan mulut goa ketiga dengan nafas sedikit terengah-engah. Kami mengambil nafas lebih lama di depan mulut goa ketiga untuk mendapatkan oksigen lebih banyak, sebelum menelusuri lorong goa. Sebab, lorong ketiga menurut Mas Sakri lebih sulit, karena lorongnya lebih sempit dan semakin pendek. Ternyata benar, saya terpaksa berjalan setengah jongkok agar kepala tidak terbentur langit-langit goa. Kedalaman air juga bertambah sehingga langkah kaki menjadi lebih sulit. Bahkan, di bagian terakhir lorong goa saya harus berjalan duduk dengan ketinggian air sampai sedada. Tak pelak kami mulai kehabisan tenaga dan nafas saya tersengal-sengal saat keluar dari lorong goa ketiga. Saat menelusuri lorong tersebut, tenaga memang lebih terkuras karena harus berjalan setengah jongkong di dalam air sungai. Tetapi, syukurlah saya bisa keluar dari goa dengan selamat dengan membawa pengalaman yang menakjubkan. Belum pernah saya sebelumnya mengalami petualangan unik seperti ini. Tinggal tersisa dua lorong goa lagi untuk mencapai garis "finish". Tetapi, sebelum masuk ke lorong keempat Mas Sakri meminta saya menunggu sebentar, lalu ia mencoba masuk terlebih dulu sendirian. Tak selang berapa lama kepalanya menyembul dari dalam air di mulut goa. Kepalanya menggeleng dan mengatakan,"jangan mas... jangan diteruskan. Tidak mungkin bisa kita telusuri. Sangat berbahaya, karena beberapa hari terakhir Pare memang habis diguyur hujan."
PENAMPAKAN: Makhluk halus memperlihatkan wujudnya secara jelas berupa wajah seorang kakek didin ding batu sebelah kanan saya
Hujan deras membuat debit air di dalam goa bertambah, sehingga permukaan air nyaris menyentuh bibir goa. Tentu saja dalam kondisi tersebut, lorong goa sangat sulit ditelusuri. Ketinggian lorong goa yang lebih pendek dari lorong ketiga, membuat permukaan air nyaris menyentuh langit-langit goa sehingga tidak ada ruang untuk menghirup oksigen bagi orang yang menelusurinya. "Kalau sedang musim kemarau saja, permukaan air sudah sampai sedagu. Sementara kita juga harus berjalan jongkong menyusuri goa," tambah Mas Sakri. Akhirnya kami memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke lorong goa keempat dan kelima. Demi keselamatan, kami memutuskan berhenti. Dalam perjalanan pulang, Mas Sakri bercerita sudah banyak kejadian di goa ini akibat keteledoran pengunjung. "Ada yang hilang dan tidak ditemukan setelah dicari berhari-hari dan ada yang pingsan. Karena ini kalau yang punya penyakit pernapasan seperti asma sebaiknya jangan ikut masuk ke dalam goa," ujarnya. "Ekspedisi" pun berakhir. Dari Desa Canggu saya langsung menuju Stasiun Kediri untuk kembali ke Jakarta dengan kereta Bisnis Kediri. Dalam perjalanan di kereta saya melihat-lihat foto yang tadi saya ambil di Goa Surowono. Salah satu foto saya yang tersimpan di dalam memori kamera itu, membuat saya sangat terkejut. Foto itu saya ambil di depan mulut goa kedua atau setelah berakhirnya penelurusan lorong goa pertama. Di dinding bebatuan besar sebelah kanan saya terlihat seraut wajah manusia (Lihat Foto) yang menyerupai seorang kakek-kakek. Menurut cerita penduduk sekitar kepada saya selama berada di sekitar Goa Surowono, memang banyak peristiwa berbau mistis di goa tersebut. Masyarakat juga sering melihat adanya penampakan makhluk-makhluk ghaib. Banyak juga "orang-orang pintar" yang berusaha mengambil benda-benda pusaka berkekuatan ghaib di Goa Surowono. Yah, begitulah ekspedisi saya di Goa Surowono yang menggambarkan Kebesaran dan Kekuasaan Ilahi Robbi atas alam nyata dan ghaib ciptaan-Nya.

Oktober 03, 2017 0 Comments
ALUN-ALUN KEDIRI
 
 
Seperti kebanyakan kota di jawa pada umumnya yang menganut sistem tata kota kerajaan, maka Kediri yang dulunya bekas kerajaan Doho/Kediri juga mempunyai alun-alun yang letaknya tepat di tengah kota tepatnya di kecamatan Kota. Mugkin alun-alun Kediri sedikit unik daripada alun-alun kota pada umumnya yang berupa tanah lapang yang luas,tapi di KEdiri alun-alunnya lebih mirip sebuah taman yang luasnya juga gak begitu luas. Berada di jalan Panglima Sudirman ,alun-alun Kediri sangat mudah ditemukan, karena berada persis di sebelah simpangan Bis jurusan Tulungagung dan Surabaya.
 
Alun-alun Kediri dulunya berupa tanah gersang berumput dan bercokol patung warna emas ditengahnya yang tak lain adalah patung Mayor Bismo ,pada tahun 90′an dipugar menjadi sebuah taman yang lengkap dengan arena pejalan kaki dan sentra kaki lima yang tersusun rapi disebelah utaranya. Sehingga yang pengen jajan makanan Kediri bisa langsung mampir jajan disana. Harganyapun cukup terjangkau, diantaranya ada bakso, rujak, mie, sate, gado-gado, soto dsb.
Kalo saat siank mungkin alun-alun Kediri terlihat sangat sepi dan panas, namun kalo malam apalagi saat malam minggu adalah saat paling rame dan pasar dadakanpun muncul memenuhi seluruh alun-alun. Tak heran jika alun-alun Kediri dijadikan tempat nongkrong maupun hiburan keluarga utama di kota Kediri dan sekitarnya, mengingat tempatnya yang strategis, rame, asyik dan fasilitasnyapun cukup memadai. Kalo minggu pagi, maka disana jadi tempat jujugan utama para pejoging maupun sekedar refreshing di pagi hari bagi warga Kediri.
 
Oktober 03, 2017 1 Comments
KEDIRI WATERPARK 

Tempat permainan air memanglah banyak disukai oleh orang-orang lantaran di sana mereka dapat bersenang-senang nikmati beragam permainan air yang ada hingga tidak herak banyak waterpark yang senantiasa ramai dikunjungi pengunjung di hari umum maupun ketika weekend atau hari libur, satu diantara waterpark yang banyak disukai orang-orang terutama warga Jawa Timur yaitu Kediri Waterpark yang disebut tempat bermain air yang mengasyikkan lantaran mempunyai beragam wahana serta sarana yang bikin pengunjung bakal kerasan serta nyaman ada di sana.

Kediri Waterpark ini sendiri ada di alamat Jl Raya Pagung, Desa Pagung, Kecamaran Semen, Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur yang mulai resmi di buka mulai sejak 18 Juni 2014 serta dinyatakan sebagai wisata air paling besar di Jawa Timur, hal semacam itu karena di sana ada satu water slide terpanjang se-Asia sekitaran 206 mtr. dengan tinggi 350 m dpl. Di sana juga disiapkan beragam wahana menarik baik itu wahana air ataupun non air hingga pengunjung bisa pilih wahana apa sajakah yang menginginkan dicoba, diluar itu juga ada sarana yang bikin pengunjung nyaman ada di sana berbarengan keluarga maupun kerabat. 
Oktober 03, 2017 0 Comments

Tahu Poo dan Gethuk Pisang Makanan Khas Kediri



Di Kediri, ada kuliner khas yang dapat dicicipi yaitu Tahu Poo dan Getuk Pisang. Dua penganan ini juga dapat dijadikan oleh-oleh untuk di bawa ketika kembali setelah mudik.
Sri, salah satu penjual di sentra oleh-oleh Pertigaan Mengkreng, Kediri mengatakan pembeli meningkat ketika arus mudik dan balik di Lebaran. Namun, dia mengatakan pembeli akan lebih banyak melakukan transaksi ketika arus balik.
"Lebih ramai waktu arus balik, buat oleh-oleh, yang paling laku Tahu Poo karena khas Kediri," ujarnya kepada Tim Bisnis Indonesia Liputan Lebaran: Jelajah Jawa Bali (LL-JJB) 2017.

Tahu Poo terdiri dari dua varian yaitu tahu putih dan tahu kuning, teksturnya yang lembut dengan rasa kedelai yang khas menjadi kelebihan kuliner ini.
Untuk mendapatkannya, cukup merogoh kocek Rp20.000 untuk lima buah tahu putih dan Rp16.500 untuk lima buah tahu kuning. Sayangnya, tahu ini hanya dapat bertahan 1-2 hari jika di luar pendingin. Namun, ada beberapa alternatif kuliner olahan dari tahu ini, seperti Stik Tahu Poo, yang tentunya lebih tahan lama.
Selain Tahu Poo, terdapat pula Getuk Pisang, makanan ini tersedia dalam beberapa ukuran dengan harga mulai dari Rp4.000 hingga Rp28.000.

Ada pula kuliner lainnya, keripik, kerupuk, roti, kue, minuman jamu dan lainnya. Selain di sentra oleh-oleh Pertigaan Mengkreng, kuliner ini dapat ditemui di beberapa pusat oleh-oleh di Kediri.

Minggu, 01 Oktober 2017

Oktober 01, 2017 0 Comments

DESTINASI BARU DI KEDIRI

"VIEW 138"


-  Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri  mulai merambah dunia wisata hutan dengan bekerjasama dengan Pemda setempat. Hal tersebut dikarenakan pada saat ini usaha kayu dan juga getah karet tak bisa mencukupi biaya operasional.
Seperti yang dilakukan oleh KPH Kediri saat ini sudah bekerjasama dengan Pemda Trenggalek, Pemkab Kediri Pemkab Nganjuk dan Pemkab Ponorogo dalam pengelolaan wisata hutan. Dan saat ini KPH Kediri telah merencanakan program wisata bukit bintang yang ada di Petak 138 yang ada di wilayah Kota Kediri, tepatnya Gunung  Klotok. Di obyek wisata ini, panorama Kota Kediri  bisa dinikmati di atas Gunung Klotok siang dan malam.
" Kita akan membuat wisata panorama kota Kediri bila dilihat dari atas Gunung Selomangleng siang ataupun malam hari, serta area Selpi," ungkap Kepala KPH, Maman Romantika  Kediri, Senin (20/03) di  ruanganya.
Selain itu pihak KPH Kediri telah mengajukan Tada daftar Usaha Pariwisata (TDUP)ke Pemerintah Kota Kediri untuk mengembangkan kawasan gunung Klotok  menjadi kawasan wisata. "Selain wisata panorama pemandangan KPH juga telah mengajukan wisata air terjun Tretes dan wisata situs gunung Selomangleng atau klotok," ungkap Maman
Kendati demikian antara pihak dinas Pariwisata dan KPH kediri ternyata memiliki rencana yang sama untuk mengembangkan wisata situs klotok menjadi wisata sejarah. Bahkan Perhutani berencana mengembangkan tiga titik wisata di kawasan tersebut.
Lebih lanjut Maman Rosmantika menjelaskan, selain mengajukan izin TDUP ke Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu kota Kediri, pihaknya juga mengurus izin untuk menjadikan situs tersebut sebagai wisata sejarah ke  balai cagar budaya. Dan rencananya  pihak perhutani akan kerjasama dengan Pemerintah Kota Kediri.
 “Kami rencanakan di gunung klotok ini menjadi komplek wisata, dan untuk situs Klotok ini akan kerjasama dengan Pemerintah Kota Kediri, saat ini kami mengajukan ke Balai Cagar Budaya, agar yang me-eskafasi situs tersebut Balai Cagar Budaya Trowulan dan yang mengelola tentu saja Perhutani, Pemkot dan LMDH," kata Maman.
Maman juga menambahkan tidak hanya situs yang akan dikembangkan oleh pihak Perhutani. Ada dua titik wisata di kawasan tersebut, yakni Puncak Bintang atau view 138, dan air terjun Sumber Tretes. Rencananya, di tiga lokasi ini, nantinya selain menggandeng Pemkot Kediri, pihak perhutani memastikan juga akan menggandeng  Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Sebelumnya Pemerintah Kota melalui Dinas Pariwisata berharap  untuk mengelola kawasan tempat ditemukan nya beberapa benda yang memiliki nilai sejarah ini. Karena pemerintah yakin jika penemuan itu berhubungan erat dengan situs Gua Selomangleng. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Kediri Nur Muhyar. Dia menyakini jika situs tersebut ada sejarah dengan Gua selomangleng.
"Meskipun belum merupakan kajian dari pihak terkait,  ini patut diduga kuat bagian dari sejarah Gua Selomangleng.  Dan ini ada nilai ke-sejarahan yang cukup tinggi," tandasnya.
Namun, pihak Dinas Pariwisata mengaku, masih menunggu izin dari pihak perhutani untuk merealisasikan keinginananya menggarap potensi wisata sejarah di kawasan gunung klotok itu. "Karena ini situs, tentunya kedepan lokasi ini menjadi wisata yang berbasis kebudayaan,  namun ya itu tadi masih menunggu sinyal positif dari Perhutani,  karena masih dalam kawasan hutan " ujarnya.