UA-107124682-1 September 2017 - Sejarah Kediri

kursor

Wavy Tail

Follow Us @soratemplates

Minggu, 24 September 2017

September 24, 2017 0 Comments
PT Gudang Garam Tbk  adalah sebuah merek/perusahaan produsen rokok populer asal Indonesia. Didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo, perusahaan rokok ini merupakan peringkat kelima tertua dan terbesar (setelah Djarum) dalam produksi rokok kretek. Perusahaan ini memiliki kompleks tembakau sebesar 514 are di Kediri, Jawa Timur

Sejarah

Gudang Garam didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo.  Tjoa Jien Hwie atau  Sebelum mendirikan perusahaan ini, di saat berumur sekitar dua puluh tahun, Tjoa Jien Hwie mendapat tawaran bekerja dari pamannya di pabrik rokok Cap 93 yang merupakan salah satu pabrik rokok terkenal di  pada waktu itu. Berkat kerja keras dan kerajinannya dia mendapatkan promosi dan akhirnya menduduki posisi direktur di perusahaan tersebut.
Pada tahun 1956 Tjoa Jien Hwie meninggalkan Cap 93. Dia memilih lokasi di jalan Semampir II/l, Kediri, di atas tanah seluas ± 1000 m2 milik Bapak Muradioso yang kemudian dibeli perusahaan, dan selanjutnya disebut Unit I ini, ia memulai industri rumah tangga memproduksi rokok sendiri, diawali dengan rokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam.
PT Gudang Garam Tbk tidak mendistribusikan secara langsung melainkan melalui PT Surya Madistrindo lalu kepada pedagang eceran kemudian baru ke konsumen.

Produk

Sigaret Kretek Lintingan Tangan

  • Gudang Garam Merah
  • Gudang Garam Djaja
  • Gudang Garam Gold
  • Syahrini
  • Taman Sriwedari
  • Gudang Garam Special Deluxe
  • Gudang Garam Tanda Mata
  • Gudang Garam Halim
  • Gudang Garam Halim Brown
  • Gudang Garam Mini Filter
  • Gudang Garam King Size
  • Nusa

Sigaret Kretek Mesin Full Flavor

  • Gudang Garam International
  • Surya Professional
  • Surya Exclusive
  • Surya 12 Premium
  • Surya 12
  • Surya 16
  • Surya 20
  • Surya 50
  • Gudang Garam Signature
  • Gudang Garam Signature Menthol
  • Gudang Garam Menthol
  • Gudang Garam Nusantara
  • Gudang Garam Nusantara Menthol

Sigaret Kretek Mesin Light Mild

  • GG Mild
  • GG Mild Shiver
  • Surya Mild
  • Surya Mild Menthol
  • Surya Professional Mild
  • Gudang Garam Deluxe Mild
  • Gudang Garam Deluxe Menthol
  • Gudang Garam Deluxe Mild Menthol
  • Gudang Garam Signature Mild
  • Gudang Garam Signature Menthol Mild
  • Surya Slims
  • Surya Slims Menthol
  • Surya Slims White

Sigaret Klobot Kretek

  • Gudang Garam Klobot
September 24, 2017 0 Comments
SEJARAH SIMPANG LIMA GUMUL
https://2.bp.blogspot.com/-g3Y2RFkiKss/Vym5BouuukI/AAAAAAAAABo/RBph0d8LtzczTFCphKP6ffxC0FuwrJzggCLcB/s1600/Monumen-Simpang-Lima-Kediri.jpg

Sebuah Monumen berdiri gagah di persimpangan lima jalan antara Kediri, Pare, Pagu, Wates / Pesantren dan Gurah. Orang-orang menyebutnya Monumen Simpang Lima Gumul atau SLG. Tempat ini adalah salah satu objek wisata yang ramai di kota Kediri. Selain itu, tempat ini juga merupakan sentra ekonomi dan perdagangan di kabupaten tersebut. Monumen yang dibangun ini juga mengandung sebuah harapan yaitu majunya roda perekonomian Kediri. Nah Sebelum mengunjungi tempat ini, Yuk simak selengkapnya informasi penting tentang Simpang Lima Gumul, Wisata Sejarah dari Kediri.

Sejarah Simpang Lima Gumul

Monumen Simpang Lima Gumul adalah ikon kabupaten Kediri. Bentuknya yang menyerupai Arc de Triomphe yang terletak di Paris, Perancis. Jika Arc de Triomphe memperingati para pejuang yang mati pada saat revolusi Perancis dan perang Napoleon, maka Monumen Simpang Lima Gumul ini diinspirasi oleh Raja Jongko Joyoboyo. Beliau adalah seorang raja yang berkuasa di abad 12 yang bercita-cita untuk menyatukan lima wilayah di kabupaten Kediri.
Pembangunan monumen Simpang Lima Gumul ini dimulai pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008. Bapak Sutrisno, bupati Kediri pada masa itu menggagas untuk membangun monumen ini di Desa Tugu Rejo, kecamatan Ngasem, Kediri. Pembangunannya diperkirakan mencapai angka 300 milyar rupiah.

Wisata Simpang Lima Gumul Kediri

Kawasan Simpang Lima Gumul memiliki luas tanah hingga 37 hektar secara keseluruhan. Luas bangunan adalah 804 meter persegi dan tingginya mencapai 25 meter. Monumen Simpang Lima Gumul memiliki 6 lantai dan ditumpu 3 tangga setinggi 3 meter dari lantai dasar. Uniknya, angka luas dan tinggi monumen melambangkan tanggal, bulan dan tahun jadinya Kabupaten Kediri yaitu 25 Maret 804 Masehi.
Di sisi kiri dan kanan monumen, terdapat 16 relief, dimana setiap pahatan menggambarkan sejarah Kabupaten Kediri. Tiap pahatan ini menunjukkan nilai seni dan budaya yang tinggi dari masyarakat Jawa Timur. Di sudut-sudut monumen, Anda juga bisa melihat patung Ganesha. Ganesha adalah dewa yang dipuja umat Hindu yang dianggap sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan, pelindung, kebijaksanaan serta penolak bala.
Begitu Anda masuk ke Monumen Simpang Lima Gumul, Wisata Sejarah dari Kediri ini, Anda akan menemui ruang-ruang pertemuan di gedung utama dan ruang auditorium dengan atap kubah. Di sisi bagian atas bangunan, Anda bisa menemukan diorama dan minimarket yang menjual souvenir khas monumen ini. Sementara ruang serba guna terletak di bagian bawah tanah. Di bagian bawah tanah ini juga, Anda akan menemui 3 akses yang berbentuk lorong yang menghubungkan tempat parkir ke basement monumen. Akses lorong ini begitu indah sehingga sayang sekali Anda tidak memotretnya sebagai kenang-kenangan.

Keunggulan Simpang Lima Gumul Kediri

Simpang Lima Gumul terletak di kawasan yang strategis lengkap dengan berbagai sarana umum. Pemerintah telah menyiapkan berbagai fasilitas Simpang Lima Gumul. Anda bisa menemui gedung pertemuan, bank daerah, gedung serbaguna, terminal bus antar kota, pasar Tugu, transportasi umum dan wisata air Water Park Gumul, Paradise Island. Dengan fasilitas Simpang Lima Gumul seperti ini, Anda bisa melakukan banyak hal di kawasan yang tidak pernah sepi pengunjung ini.
Di pagi hari, Anda bisa melihat banyak warga lokal atau wisatawan yang jogging di area ini maupun bersantai dan bercengkerama di area monumen ini. Selain itu, Anda juga bisa menjumpai pedagang-pedang kaki lima yang berjejer di Pasar Tugu. Mereka menjajakan makanan, minuman dan menjual cenderamata. Pasar Tugu yang berasal dari kata “Setu Tugu” ini paling ramai dikunjungi pada Sabtu malam dan Minggu pagi.

Fungsi Simpang Lima Gumul

Fungsi Simpang Lima Gumul saat ini  dijadikan sebagai tempat pagelaran seni budaya hingga pameran produk unggulan Kabupaten Kediri. Anda juga bisa menjumpai berbagai event lomba seperti jambore nasional, drag race atau gathering dari berbagai komunitas Kediri di tempat ini.
Bagi Anda yang suka wahana permainan. Anda bisa ke Gumul Paradise Island. Anda dan keluarga bisa menikmati berbagai aktifitas seperti bodyslide, kolam jamur, speedslide, funbommerang atau flying fox. Anda cukup membayar Rp 30.000 pada hari weekend atau Rp 15.000 pada hari biasa.
September 24, 2017 0 Comments
 SEJARAH KOTA KEDIRI
 
Sejarah berdirinya Kabupaten Kediri bisa dikategorikan dalam beberapa fase. Fase pertama di mulai pada jaman kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga. Airlangga yang waktu bergelar CRIMAHARAJA RAKELAHU CRILO-KESWARA DHARMAWANGSA AIRLANGGA ANANTA WIKRAMA-TUNGGADEWA telah berhasil menyatukan daerah-daerah kerajaan Dharmawangsa yang telah pecah-belah akibat pengaruh Sriwijaya.

Sesuai dengan kehidupan orang Hindu, Airlangga ingin memenuhi kewajibannya yaitu menjadi pertapa, dan sebelum mengundurkan diri pada tahun 1041 ia membagi kerajaanmenjadi dua bagian untuk kedua putranya.

Adapun pembagian kerajaan sebagai berikut :
  1. Bagian Timur: Kerajaan Jenggala denga ibukota Kahuripan meliputi daearah Surabaya, Malang dan Besuki.
  2. Bagian Barat: Kerajaan Panjalu atau Kadiri meliputi daerah Kediri, Madiun dengan ibukota Dahapura.

Ketika Airlangga menjadi pertapa, Ia dikenal dengan nama JATIWINDRA atau MAHARESI GENTAYU hingga akhir hidupnya tahun 1049. Abu jenasahnya dimakamkan dilereng Gunung Peanggungan.

Fase kedua adalah dimana Kerajaan Kadiri bermula. Seusai era kerajaan Jenggala, berdirilah satu kerajaan bernama Panjalu dan terkenal dengan nama Dhaha, letak ibukotanya kira-kira di kota Kediri sekarang ini. Pada pertengahan abad ke-11 mulailah sejarah kerajaan Kadiri, dengan SRI JAYAWARSA sebagai raja pertama yang memerintah pada tahun 1104-1115 M.

Raja Kadiri terakhir adalah KERTAJAYA yang memerintah pada tahun 1185-1222 M, ia memerintah dengan sewenang-wenang hingga timbul pemberontakan yang melemahkan kerajaan. Seperti pertentangan-pertentangan antara Kertjaya dengan golongan Pendeta.

Golongan Pendeta menyingkir ke Tumapel (Ken Arok) dan selanjutnya mengadakan pemberontakan. Penyerangan Tumapel (Ken Arok) pada tahun 1222 telah meruntuhkan kerajaan Kadiri, mulailah tahta kerajaan diduduki oleh Ken Arok dan Kerajaan dipindah ke Singosari.

Dalam masa kepemimpinan kerajaan Singosari, yang di pegang oleh Kertanegara, terdapat beberapa keberhasilan yang bisa diraih dalam pemerintahan Kartanegara tersebut, seperti :
  • Mempersatukan Nusantara
  • Pembinaan menjadi Negara Maritim yang teguh
  • Membantu perkembangan agama Syiwa dan Budha
  • Dengan berkembangnya kekuasaan Singosari, hal ini menimbulkan kecurigaan negara-negara sekitarnya, lebih-lebih kerajaan Mongol (Cina) dibawah Kaisar Kubilai Khan, yang ingin merebut tanah air kita.

Fase berikutnya masuk sejak dikuasainya Nusantara oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Pada tahun 1906, berdasarkan Staasblad no. 148 tertanggal 1 maret 1906, mulai berlaku tanggal 1 April 1906 dibentuk Gemeente Kediri sebagai tempat kedudukan Resident Kediri, sifat pemerintahan otonom terbatas dan sudah mempunyai Gemeente Road sebanyak 13 orang, yang terdiri atas 8 orang golongan Eropa dan yang disamakan, 4 orang Pribumi (Inlander) dan 1 orang Bangsa Timur Asing, dan berdasarkan Stbl No. 173 tertanggal 13 Maret 1906 ditettapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun, pada tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Stbl No. 498 menjadi Zelfstanding Gemeenteschap mulai berlaku tanggal 1 Januari 1928 (menjadi otonom penuh).

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada tanggal 10 Maret 1942, maka Kota Kediri pun mengalami perubahan pemerintahan. Karena wilayah kerja Gemeente Kediri yang begitu kecil dan tugasnya sangat terbatas oleh pemerintah Jepang daerahnya diperluas menjadi daerah kota sekarang daerah Kediri Shi dikepalai oleh Shicho.

Kediri Shi terdiri dari 3 Son dikepalai oleh Shoncho Son itu terdiri dari beberapa Ku dikepalai Kucho Pemerintahan Kediri Shi dipimpin oleh seorang Shicho (Walikotamadya) tidak saja menjalankan pemerintahan otonomi tetapi juga menjalankan algemeen bestuur (Pemerintahan Umum). Hanya di bidang otonomi tidak didampingi oleh DPRD. Wewenang penuh ditangan Kediri Shicho.

Setelah menyerahnya Jepang kepada Sekutu, habislah sejarah Pemerintah Jepang di Kediri, maka Pemerintah beralih kepada RI. Mula-mula walikota Kediri didampingi oleh Komite Nasional Kotamadya, kemudian daerah berkembang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.